GpG8BSClGpG6TfroGpC8GSM9Gi==

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Rancang Ekspansi Industri Rokok Nasional hingga 19 Pabrik dan 2.000 UMKM

 

Ilusrasi: HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, mengumumkan rencana besar pengembangan industri rokok dan tembakau nasional
KUTIPANTAU.COM - Seorang pengusaha rokok nasional, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy, mengumumkan rencana besar pengembangan industri rokok dan tembakau nasional melalui jaringan perusahaan yang ia bangun di berbagai daerah di Indonesia. Konsep bisnis tersebut disusunnya saat berada di Manila, Filipina, dan menjadi bagian dari strategi ekspansi usaha setelah menyelesaikan tahap awal legalitas perusahaan.


Dalam pernyataannya, Khalilur menjelaskan bahwa dirinya telah memulai perjalanan sebagai pengusaha rokok dengan membangun fondasi utama berupa perusahaan rokok, gudang tembakau, serta pabrik rokok. Menurutnya, langkah awal tersebut kini telah berkembang menjadi beberapa induk perusahaan yang akan mengelola berbagai lini usaha dalam industri tembakau.

Ia menyebutkan bahwa saat ini tengah dibentuk tiga jenis induk perusahaan utama yang meliputi perusahaan rokok, perusahaan tembakau, serta perusahaan distribusi. Struktur tersebut disiapkan untuk membangun rantai industri tembakau dari hulu hingga hilir secara terintegrasi.

Pada sektor perusahaan rokok, Khalilur mengungkapkan terdapat enam induk perusahaan yang sedang dan telah dibangun, yakni Rokok Bintang Sembilan (RBS), Bandar Rokok Nusantara (BARON), Joko Tole Nusantara (JOLENTARA), Madura Tembakau Nusantara (MADANTARA), Bandar Rokok Nusantara Global (BARONG), serta Madura Indonesia Tembakau (MASAKU). Dari enam perusahaan tersebut, lima di antaranya telah menyelesaikan proses legalitas, sementara satu perusahaan lainnya masih dalam tahap pengurusan dokumen.

Ia menambahkan, salah satu perusahaan yang telah memiliki legalitas juga sudah memiliki pabrik rokok lengkap dengan berbagai perlengkapan produksi. Hal ini menjadi langkah awal sebelum memasuki tahap ekspansi yang lebih luas di berbagai wilayah Indonesia.

Selain perusahaan rokok, Khalilur juga membentuk dua induk perusahaan yang bergerak di bidang tembakau, yaitu Nusantara Global Tobacco (NGO) dan Bandar Tembakau Indonesia (BAKAU Indonesia). Kedua perusahaan tersebut akan berperan dalam pengelolaan bahan baku tembakau dari berbagai daerah penghasil di Tanah Air.

Sementara itu, untuk mendukung rantai distribusi, ia juga mendirikan satu induk perusahaan distribusi bernama Angkut Barang Seluruh Nusantara (ABANG SETARA). Perusahaan ini disiapkan untuk memperkuat sistem distribusi produk tembakau dan rokok ke berbagai wilayah di Indonesia maupun pasar internasional.

Setelah menyelesaikan tahap awal berupa legalitas usaha, Khalilur kini menyiapkan rencana ekspansi besar. Ia berencana membangun 17 gudang tembakau di tiga provinsi, yakni Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Jawa Tengah. Beberapa daerah yang masuk dalam rencana pembangunan gudang tersebut antara lain Sumenep, Pamekasan, Situbondo, Probolinggo, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Lombok Timur, Lombok Tengah, Mataram, Temanggung, Wonosobo, Demak, Kudus, Pati, Magelang, dan Jepara.

Tak hanya itu, ia juga merencanakan pembangunan 19 pabrik rokok besar di 19 kabupaten. Tujuh belas pabrik akan berdiri di daerah yang memiliki gudang tembakau, sementara dua pabrik lainnya direncanakan berada di Kabupaten Sidoarjo dan Malang.

Menurut Khalilur, pabrik-pabrik tersebut akan dibangun dengan kapasitas menengah hingga skala internasional. Namun ia menegaskan bahwa konsep bisnis yang ia susun tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sebagai bagian dari konsep tersebut, ia merencanakan pembentukan sekitar 2.000 perusahaan rokok UMKM di berbagai daerah. Setiap perusahaan kecil tersebut diperkirakan akan mempekerjakan sekitar 20 orang karyawan, sehingga secara keseluruhan berpotensi menciptakan sekitar 40.000 lapangan pekerjaan.

Dalam skema produksinya, UMKM tersebut nantinya akan memproduksi enam jenis rokok kretek dengan enam jenis tembakau berbeda, di antaranya Virginia Blend dari tembakau Lombok, Oriental Blend dari tembakau Madura, Burley Blend dari tembakau Jember dan Banyuwangi, Besuki Blend dari tembakau Situbondo, Lumajang Blend dari tembakau Lumajang, serta Srintil Blend dari tembakau Temanggung.

Khalilur menyatakan, konsep penggabungan antara 19 pabrik rokok skala besar dengan ribuan UMKM tersebut diharapkan mampu memperkuat industri rokok nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tembakau di berbagai daerah.

Ia menuturkan, rencana bisnis tersebut diselesaikan pada Ahad (15/3/2026) dari kamar Hotel Sheraton Manila Bay, Manila, Filipina. Melalui konsep tersebut, ia berharap industri tembakau Indonesia dapat berkembang lebih besar dan mampu bersaing di tingkat global.

“Semoga rencana ini membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya petani tembakau Indonesia, serta menjadi inspirasi agar masyarakat Indonesia semakin bangga terhadap produk dan potensi negaranya,” ujar Khalilur dalam pernyataannya.

0Komentar