![]() |
| Ketua DPD partai Golkar Situbondo saat menyampaikan sambutan pada acara silaturahmi lintas elemen, Sabtu (2/3/2026). (Foto: Kutipantau.com) |
SITUBONDO – Di tengah dinamika politik daerah yang kerap diwarnai perbedaan sikap dan pilihan, DPD Partai Golkar Situbondo memanfaatkan momentum Ramadan sebagai ruang rekonsiliasi politik. Melalui agenda buka puasa bersama lintas partai dan organisasi kemasyarakatan, Golkar mengirimkan pesan kuat bahwa stabilitas dan kolaborasi jauh lebih penting daripada sekat politik.
Acara yang digelar Senin (2/3/2026) malam itu bukan sekadar silaturahmi seremonial, melainkan forum konsolidasi sosial-politik yang mempertemukan berbagai kekuatan politik dalam satu meja kebersamaan.
Ketua DPD Partai Golkar Situbondo, Yani Wijaya Baihaqi atau Bang Yani, secara terbuka menegaskan pentingnya menjaga komunikasi antar partai. Menurutnya, kompetisi politik telah usai, dan saatnya seluruh elemen fokus pada agenda pembangunan daerah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan pilihan politik tidak boleh memutus silaturahmi. Justru di bulan suci ini, kita kuatkan kembali persaudaraan,” ujar Bang Yani.
Kehadiran pimpinan lintas partai seperti Ketua DPC Partai Gerindra Situbondo Hambali, perwakilan PDI Perjuangan Supoyo, Ketua DPC Partai NasDem Situbondo Hari Budi Prasetya, hingga perwakilan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Hati Nurani Rakyat menjadi simbol bahwa komunikasi politik di Situbondo tetap terjaga.
Tak hanya partai politik, unsur keagamaan dan organisasi masyarakat seperti PCNU, MUI, hingga Garda Sakera juga turut hadir, memperlihatkan bahwa stabilitas daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab elit politik, tetapi juga seluruh elemen sosial.
Dalam pandangan Bang Yani, stabilitas politik merupakan modal utama pembangunan. Tanpa komunikasi yang baik antar partai, agenda pembangunan bisa terhambat oleh gesekan-gesekan yang tidak produktif.
“Politik itu bukan semata soal menang dan kalah. Politik adalah tentang bagaimana kita memastikan masyarakat tetap merasa aman, damai, dan diperhatikan,” tegasnya.
Momentum Ramadan dipilih karena diyakini sebagai bulan refleksi, introspeksi, dan penguatan nilai kemanusiaan. Di tengah suhu politik nasional yang kadang menghangat, Situbondo justru menunjukkan wajah politik yang lebih teduh.
Sebagai simbol konkret dari semangat kebersamaan tersebut, Golkar Situbondo menutup acara dengan membagikan bingkisan Idul Fitri kepada seluruh tamu undangan. Bingkisan itu bukan sekadar paket lebaran, melainkan representasi komitmen untuk terus menjaga hubungan baik lintas elemen.
Melalui inisiatif ini, Golkar ingin memposisikan diri bukan hanya sebagai partai politik peserta kontestasi, tetapi sebagai jembatan komunikasi antar elemen strategis daerah. Ramadan pun menjadi panggung rekonsiliasi, di mana rivalitas ditanggalkan, dan kolaborasi diteguhkan demi masa depan Situbondo yang lebih harmonis.


0Komentar