Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu sentra pemasok sayuran terbesar di wilayah Jember. Sebagian besar kebutuhan sayuran segar di kabupaten tersebut dipenuhi dari hasil pertanian warga Desa Sukorambi yang secara rutin mendistribusikan berbagai jenis sayuran ke pasar tradisional hingga pedagang besar.
Kondisi lahan yang subur serta aktivitas pertanian
yang dilakukan secara berkelanjutan menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomian masyarakat desa tersebut.
Hasil pengamatan lapangan yang dilakukan pada Januari 2026, pola panen sayuran di Desa Sukorambi dilakukan hampir setiap hari dengan sistem bergiliran antara lahan sawah dan kebun. Sistem ini diterapkan agar pasokan sayuran tetap stabil dan pengiriman ke pengepul dapat dilakukan secara rutin. Jenis sayuran yang dihasilkan meliputi sawi, bayam, dan kangkung dari lahan sawah, serta bayam dan kenikir dari kebun.
Petani memanen sayuran dalam jumlah terbatas sebagai strategi pemerataan hasil antar pelaku tani sekaligus untuk menjaga keberlanjutan pasokan. Hasil panen dijual dalam sistem ikatan, dengan satu kali panen menghasilkan sekitar 11 ikat besar atau setara satu bajo atau tobos.
Harga jual normal berkisar Rp7.000 per ikat besar dan dapat meningkat hingga Rp10.000 per ikat saat pasokan terbatas. Dalam satu kali pengiriman, volume sayur mencapai sekitar 100 hingga 125 ikat dengan pendapatan petani berkisar antara Rp100.000 hingga Rp125.000. Pengiriman sayuran dilakukan langsung ke pengepul pada waktu magrib hingga isya tanpa melalui perantara, guna menjaga kesegaran produk.
Selanjutnya, sayuran tersebut didistribusikan ke pasar melalui pengepul lokal murni maupun pengepul campuran. Pola distribusi ini dinilai mampu menjaga kualitas sayuran sekaligus mendukung kestabilan pendapatan petani. Dari sisi ekonomi, usaha kerupuk sayur tersebut memberikan keuntungan yang cukup signifikan. Erni mengungkapkan bahwa laba yang diperoleh dapat mencapai 50% setiap resep produk.
Selain dapat menopang perekonomian keluarga, usaha ini juga membuka peluang pengembangan UMKM berbasis pertanian lokal. Keberadaan UMKM olahan pangan di Desa Sukorambi menunjukkan bahwa potensi pertanian desa tidak hanya berhenti pada sektor hulu, tetapi juga mampu berkembang ke sektor hilir melalui inovasi produk.
Kondisi tersebut menjadi bukti bahwa hasil pertanian desa dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang berdaya saing, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat setempat. (*)

0Komentar