GpG8BSClGpG6TfroGpC8GSM9Gi==

Tim RBS Situbondo Dalami Produksi Rokok SKT di KIHT Sumenep

Sebanyak 12 orang dari Tim RBS Situbondo mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran tersebut. Mereka berada di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Sumenep, Senin (9/2/2026). (Foto: RBS for Kutipantau.com)
BISNIS, KUTIPANTAU.COM - Tim Rokok Bintang Sembilan (RBS) Situbondo melakukan kunjungan pembelajaran ke Kabupaten Pamekasan dan Sumenep, Jawa Timur, guna mempelajari proses pembuatan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menyiapkan pengembangan industri rokok SKT berbasis UMKM di Kabupaten Situbondo.

RBS atau Rokok Bintang Sembilan merupakan inisiatif yang dikembangkan untuk membangun ekosistem industri hasil tembakau secara mandiri dan berkelanjutan. Fokus utama kegiatan ini adalah menyiapkan sumber daya manusia yang memahami proses produksi rokok SKT secara menyeluruh.

Sebanyak 12 orang dari Tim RBS Situbondo mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran tersebut. Mereka berada di Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Sumenep, yang merupakan kawasan pabrik rokok SKT binaan Pemerintah Kabupaten Sumenep, Senin (9/2/2026).
Tim RBS saat melakukan diskusi langsung dengan pelaku industri rokok SKT Lokal di Sunenep, Senin (9/2/2026). (Foto: RBS for Kutipantau.com)
KIHT Sumenep dikenal sebagai pusat pembinaan industri rokok SKT, khususnya bagi pelaku UMKM. Di kawasan ini, pelaku usaha mendapatkan pendampingan terkait teknis produksi, tata kelola industri, serta pemenuhan aspek perizinan sesuai ketentuan yang berlaku.

Salah satu Koordinator Tim RBS, Arief Ma’ruf Riscahyono, menyampaikan bahwa kunjungan ke Sumenep merupakan bagian dari proses belajar sebelum membangun industri rokok SKT di Situbondo. Ia menegaskan pentingnya belajar dari daerah yang telah lebih dahulu berhasil mengelola industri hasil tembakau.

“Kami datang ke Sumenep ini memang untuk belajar. Di sini ekosistem rokok SKT sudah berjalan dengan baik, sehingga sangat relevan bagi kami untuk menyerap ilmu dan pengalaman sebelum diterapkan di Situbondo,” ujar Arief Ma’ruf Riscahyono.

Menurut Arief, pembelajaran tidak hanya dilakukan pada aspek teknis produksi, tetapi juga pada pola pembinaan UMKM dan manajemen tenaga kerja. Hal tersebut dinilai krusial agar industri rokok SKT yang dibangun nantinya dapat berjalan tertib dan berkelanjutan.

“Bukan hanya soal melinting rokok, tetapi bagaimana mengelola pabrik SKT skala UMKM agar tetap patuh aturan, produktif, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.
Selama berada di Sumenep, Tim RBS Situbondo juga melakukan diskusi langsung dengan pelaku industri rokok SKT lokal. Interaksi tersebut membuka wawasan terkait tantangan di lapangan, sekaligus strategi menjaga kualitas produk.

Dokumentasi kegiatan Tim RBS Situbondo dilakukan di MYZE Hotel Sumenep, yang menjadi lokasi konsolidasi dan evaluasi harian selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Dokumentasi kegiatan Tim RBS Situbondo dilakukan di MYZE Hotel Sumenep, yang menjadi lokasi konsolidasi dan evaluasi harian selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Arief menambahkan, hasil pembelajaran ini akan menjadi dasar pendirian lima Pabrik Rokok (PR) UMKM tahap awal di Situbondo yang berada di bawah naungan RBS.

“Untuk tahap awal, kami akan membentuk lima PR UMKM. Semuanya berada di bawah payung RBS agar pembinaan, pengawasan, dan standarisasinya bisa berjalan searah,” kata Arief.

Lima PR tersebut dikenal dengan nama kolektif Longi Nyo Ko La, yakni PR Lo Nyo, PR Ngi Nyong, PR Nyo Nok, PR Ko Bessa, dan PR La Kapra. Keberadaan PR ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan meningkatkan nilai tambah komoditas tembakau Situbondo.

“Harapan kami, industri rokok SKT ini nantinya bisa membuka lapangan kerja dan mendorong ekonomi masyarakat, tanpa mengabaikan aturan dan aspek keberlanjutan,” pungkas Arief Ma’ruf Riscahyono.

0Komentar